Kritik Manusia Sebagai Makhluk Sosial (Studi Kemiskinan dan Kekayaan)



Banyak yang mendefinisikan bahwa manusia itu makhluk sosial, karena manusia makhluk sosial, maka interaksi sosial seperti nongkrong di cafe, nongkrong pinggir jalan, tolong-menolong dan lain-lain. Mungkin, itu adalah salah satu kegiatan dari interaksi sosial yang terjadi secara langsung di kehidupan kita.

Saya mempunyai maksud dan tujuan dalam tulisan ini, berangkat dari beberapa pertanyaan yang terdiri dari: bagaimana bisa manusia sebagai makhluk sosial tapi antipati kepada problem sosial?apakah problem sosial itu di ciptakan manusia sendiri atau secara organik? Lantas, mengapa problem sosial ini manusia saling menyalahkan dan menunjuk kepada salah satu orang untuk menjawab problem sosialnya?

Saya coba bahas satu persatu pertanyaan yang diatas, bagaimana bisa manusia sebagai makhluk sosial tapi antipati kepada problem sosial?

Problem sosial yang ada dalam kehidupan kita seperti, kemiskinan, pengangguran, kesenjangan sosial, dan lain-lain. Problem sosial ini bukan hanya milik manusia secara personal, tapi milik semua elemen yang ada di dalam kehidupan. Elemen yang ada di dalam kehidupan ini terdapat orang, lembaga dan jabatan serta perangkat sarana prasarananya. Orang ini pasti manusia (masa iyah hewan), lembaga ini bisa berbentuk lembaga swasta maupun lembaga negeri, dan jabatan adalah profesi yang dimiliki secara formal oleh manusia itu.

Contoh : Kepala dinas sosial bernama Mahmud mempunyai program one people one koin.

Contoh diatas bisa kita telaah, kepala dinas adalah jabatannya, dinas sosial (sebut saja dinsos) adalah lembaganya, Mahmud adalah manusia.

Programnya itu adalah salah satu bentuk untuk saling membantu atau tolong menolong antar warga bilamana membutuhkan biaya mendadak bisa meminta bantuan sesuai dengan kebutuhannya melalui lembaga dinsos, maka uang koin yang terkumpul tersebut wajib dialokasikan untuk kepentingan warganya dengan bukti secara transparan.

Jadi, kontrak sosial yang menjad poin penting dalam menjawab problem sosial. Ketika, kontrak sosial dilakukan dengan mekanisme yang sesuai dengan peraturan tanpa ada oknum-oknum yang memanfaatkan, menurut saya ini merupakan salah satu jawaban dala menjawab problem sosial agar tidak satu sama lainnya antipati.

Pertanyaan kedua, apakah problem sosial ini di ciptakan atau secara organik?

Saya ambil contoh problem sosial yaitu orang miskin dan orang kaya serta istilah miskin dan kaya. Istilah miskin dan kaya adalah istilah yang muncul secara organik, mengapa? Karena istilah ini hadir sebelum manusia mempunyai title orang miskin dan orang kaya. Sedangkan istilah orang miskin dan orang kaya merupakan sebuah bentuk dari pengikhtiaran dari manusia untuk mencapai titik kekayaan dan bukan ikhtiarnya tidak maksimal maka akan mencapai titik kemiskinan.

Ada sebuah ungkapan begini, orang kaya hari ini adalah orang kaya dulu dan orang kaya miskin hari ini adalah orang miskin dulu. Mungkin, istilah ini dilihat dari nasab dan mungkin juga dilihat dari sebab sehingga mempunyai akibat dari yang dilakukan oleh manusia sendiri.

Kemudian pertanyaan yang terakhir, mengapa manusia saling menyalahkan dan menunjuk kepada salah satu orang untuk menjawab problem sosial yang hadir ?

Menilai dari segi pertanyaan ini, saya melihat bahwa keadaan sosial dalam masyarakat terkadang melihat dari segi kemapanan seseorang. Baik dari segi kemapanan ilmu agamanya, kemapanan dari segi keuangannya dan kemapanan dari segi ilmu akademiknya. Makanya, manusia secara personal gampang sekali mengingat dan mengetahui siapa tokoh yang ada di desa.

Contoh:
Seorang Kyai, Ustad, Ajengan, Habib akan lebih terkenal dalam kehidupan sosial. Karena masyakarat percaya bahwa persoalan keagamaan itu harus bertanya kepada ahli agama. Seorang pengusaha sukses di satu desa atau kampung akan lebih terkenal juga, karena usaha yang dimilikinya banyak sekali. Sehingga banyak sekali karyawan atau yang bekerja kepada pengusaha tersebut. Seorang profesor ahli akan lebih terkenal dalam aspek dunia akademis dunia pendidikannya, sehingga masyarakat segan kepadanya.

Persoalan hari ini, manusia mengandalkan seseorang untuk menjawab akan satu problem sosial. Bukankah problem sosial ini milik kita bersama? Seandainya problem sosial kemiskinan hanya miliknya seorang yang kaya untuk menyantuninya, jika orang kaya tersebut ikhlas untuk menyantuninya tanpa ada tujuan tertentu, maka menjadi amal kebaikan orang kaya tersebut. Namun, jika orang kaya tersebut terjatuh kepada jurang kemiskinan. Apakah orang tersebut masih bisa menyantuninya atau malah sebaliknya di santuni?

Saya pikir, problem sosial adalah milik kita bersama, bukan hanya milik pemerintah sebagai pejabat yang mampu dan mempunyai kekuasaan untuk menjawabnya. Problem sosial pun mampu di jawab bilamana manusia sebagai makhluk sosial mempunyai kesadaran kolektif untuk menjawab problem sosial yang ada. Maka, saya memberikan beberapa tahap dalam menjawab problem sosial ini. Tahap manusia sebagai makhluk sosial, tahap kesadaran kolektif antar masyarakat, pejabat dan lembaga, tahap kontrak sosial antara masyarakat dengan masyarakat, tahap kontrak sosial masyarakat dengan pejabat, dan tahap pengintegralisasian. Tahap-tahap ini harus dilakukan secara sinergis dan kolaborasi, untuk mencapai perkembangan, pertumbuhan dan kemajuan dalam menjawab problem-problem sosial yang hadir di masyarakat.



Oleh : Mochamad Aripin
Instagram : @aripin.mochamad