Menyemai Mimpi Dalam Sayap Ibu

 Menyemai Mimpi Dalam Sayap Ibu


Sepasang burung pipit terbang rendah di langit-langit Yayasan Sayap Ibu, Bintaro. Suaranya nyaring menyambut senja. Sayap kecilnya mengepak lincah. Kedua kakinya lalu menapak di ranting-ranting kecil pohon jati. Melompat dari satu ke ranting lain. Mereka ikut menghibur puluhan malaikat kecil di halaman yayasan itu.  Pasangan burung itu selalu hadir tepat waktu. Setiap hari. Tepat sesaat sebelum matahari menutup katup matanya di ufuk barat. Sesekali, ia mencuri perhatian dengan membawa serta rombongan.

Puluhan malaikat kecil itu melempar senyum ramah. Pada siapa saja yang datang. Dari kursi roda yang jadi sandaran tubuh mungilnya. Kebanyakan orang menyebut mereka cacat. Keterbelakangan mental. Keterbatasan fisik. Negara menyimpulkan mereka sebagai kelompok disabilitas. Orang-orang lupa bahwa mereka dianugerahi Tuhan sifat sabar yang berlimpah ruah. Sifat ke 99 dalam Asma Al Husna. Sekaligus sifat terakhir Tuhan. As Shabuur. Yang maha sabar.

Mereka tidak saja menjadi orang terpanggil. Tapi juga orang terpilih. Terpilih untuk memberi pelajaran pada setiap orang. Bahwa sifat sabar sejatinya tak berbatas. Mereka menerima kasih sayang Tuhan dengan sabar. Melewati hari demi hari dalam keterbatasan ruang gerak. Tapi sayap mereka tak pernah patah. Mereka tetap menggantungkan harapan pada birunya langit.

Kesabaran mereka tak perlu diragukan. Meskipun hanya sebesar biji zarrah. Mereka menerima itu sejak tertanam dalam rahim ibu. Mereka juga menerima kenyataan pahit. Kelahiran yang tak diharapkan. Karenanya, sejak kecil sudah mendapat perlakuan tak manusiawi. Dari orang-orang terdekat. Dari orang yang darahnya mengalir di tubuh mungil puluhan malaikat kecil itu. Dari ibu mereka. Ayah mereka. Orang tua mereka. Bahkan juga dari lingkungan. Mereka diperlakukan kasar. Dianggap aib keluarga. Memalukan orang tua. Karena itu tak layak diperlakukan lazimnya manusia.

Sayap ibu menjadi rumah kedua bagi mereka. Disini mereka dilahirkan kembali. Menjadi balita. Menjadi anak-anak. Menjadi remaja. Bahkan menjadi dewasa. Disini mereka menemukan kebahagiaan itu. Sebab, rumah utama  bak miniatur neraka bagi mereka. Dimana orang tua menjadi momok mengerikan. Seolah menjadi bayangan iblis yang siap menerkam kapan saja.

"Mereka adalah anak-anak yang dibuang orang tuanya," begitu kata Tuti Hendrawati. Ia adalah manager di Yayasan Sayap Ibu, Bintaro. Dia bercerita, Yayasan itu menjadi rumah bagi anak-anak yang mengalami disabilitas majemuk. Baik cacat fisik, cacat mental maupun keduanya. 



Disini, malaikat kecil itu bahagia. Mereka bisa tersenyum semringah. Mereka bisa bermain. Tanpa keluh kesah. Tak ada ketakutan. Seperti di rumah kandung mereka. Disini, mereka terbebas dari rasa takut. Merdeka dari perlakuan diskriminatif orang tua. Terhindar dari prilaku kasar ayah dan ibu berwajah raksasa jahat berhati iblis. Mereka hidup bersama. Berdampingan. Bertemu dengan orang-orang tulus dengan hati putih. Menemani perjalanan hari-hari mereka. Bahkan sejak Balita hingga saat ini. Memberi perhatian layaknya ibu dan bapak kandung. Merawat, mengasuh, membimbing, menyapih, memberi minum, memandikan, mengenalkan teknologi, mengajarkan kemandirian, hingga menanamkan semangat di hati mereka.

Menyirami, memupuk, membersihkan sisa trauma sampai mereka siap untuk berbaur di tengah-tengah masyarakat.  Bibit semangat pantang menyerah itu yang membuat malaikat yang dibuang itu survive. Sebab, akan tiba waktunya mereka kembali ke masyarakat. Akan datang waktunya mengepakan sayap sendiri. Setelah bertahun-tahun belajar mengepak di Sayap Ibu.

Disini, mereka menghabiskan waktu dengan belajar dan bermain. Disini mereka dihargai. Selayaknya manusia pada umumnya. Bermimpi. Bercita-cita.
Dulu, saat pertama tiba di Sayap Ibu kondisi mereka sebagian besar mengenaskan. Jejak kejahatan orang tua tergambar nyata di raut wajah mereka. Ada diantara mereka yang ditinggalkan di rumah sakit. Ada yang diselamatkan dari pekuburan umum. Ada yang diselamatkan dari terminal. Pasar. Luput dari ancaman  perdagangan orang. Selamat dari  penjualan organ tubuh. Bahkan ada juga yang dibuang dari dalam taksi. Persis di pelataran pintu masuk yayasan itu. Hingga kepala lebam terbentur aspal. Mereka datang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan ada juga anak-anak TKI WNI di Malaysia, Arab Saudi dan beberapa negara.

Tapi mereka, malaikat-malaikat kecil itu, juga para perawat di yayasan tak mengeluh. Seolah semua yang mereka alami dan jalani adalah puncak dari ujian kesabaran.

Kurang sabar apa mereka?
Adakah kesabaran yang melebihi itu?

Seorang pendakwah mengajarkan ;
"Sabar itu ilmu tingkat tinggi.
Belajarnya setiap hari.
Latihannya setiap hari.
Ujiannya sering mendadak.
Sekolahnya seumur hidup.
Namun hadiahnya kebahagiaan"

Selama berada di Yayasan Sayap Ibu, malaikat kecil itu dilatih mandiri. Sebab, akan tiba waktu mereka kembali ke komunitas yang lebih besar. Ibarat burung yang akan bergaul, berinteraksi dengan burung lainnya di rimba raya. Mereka harus bisa mengepakan sayap sendiri. Mereka harus mengepakan sayap sendiri diantara jutaan sayap di alam rimba raya. Menyiapkan mental. Menyiapkan langkah sendiri. Agar sejajar dengan yang lain dalam komunitasnya.

Yayasan Sayap Ibu diisi oleh orang yang punya komitmen tinggi terhadap kemanusiaan. Mereka adalah manusia pilihan yang lapang dada. Kepakan sayapnya menjangkau seluruh negeri. Menaungi malaikat kecil yang dibuang keluarganya. Baik di kuburan umum, di RS, di terminal bus bahkan di pasar tradisional. Mereka tak kenal letih. Saban hari, Tuti Hendrawati dan para pemberi perhatian kepada malaikat kecil di yayasan itu menemani hari-hari mereka. Dari pagi ke pagi lagi.

"Sudah lima tahun belakangan ini pola pengasuhannya berubah. Kalau sebelumnya, pola pengasuhannya kayak di rumah sakit. Anak-anak diposisikan sebagai orang sakit yang membutuhkan bantuan," katanya.

Tetapi itu dulu. Sejak lima tahun lalu, pola itu sudah berubah. Para malaikat kecil itu diberi pendidikan. Tujuannya adalah menyelamatkan potensi yang tersisa dari puluhan anak-anak itu. Sehingga mereka bisa mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk mandiri. Dengan diberi pendidikan, kemampuan verbal dan jumlah kosakata yang dihapal semakin bertambah setiap harinya.

"Jadi, anak-anak ini dikembangkan kemandirian mereka. Sehingga aktivitas sehari-hari bisa mereka lakukan," terang Tuti.

Beberapa diantara mereka sudah memasuki masa transisi. Itu artinya, dalam dua tahun kedepan, sebagian malaikat kecil itu harus kembali ke tengah masyarakat. Mereka harus hidup dalam lingkungan pergaulan yang lebih luas. Seperti halnya burung Pipit yang terbang di langit dan memasuki fase baru kehidupannya. Tetapi, para malaikat kecil itu tentu tidak serta merta dilepas total. Yayasan Sayap Ibu akan memfasilitasi rumah kontrakan, membantu modal usaha bahkan mempekerjakan mereka di yayasan tersebut.

"Mereka harus hidup sebagaimana masyarakat pada umumnya," katanya.

Tentu ia berharap, kelak, para malaikat kecil itu bisa menjadi contoh bagi yang lain. Terutama anak-anak berkebutuhan khusus atau disabilitas majemuk. Apalagi, senyum anak-anak itu mengisyaratkan kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Sebagai buah dari kesabaran atau anugerah Tuhan atas yang mereka dapatkan.

Ucup salah satunya. Ia adalah penghuni Sayap Ibu sejak berumur satu setengah  tahun. Ia diselamatkan Polisi dari sebuah pekuburan umum di NTB.  Selimut batik kucel membungkus bada mungilnya. Seadanya. Saat itu, sudah tiga hari tiga malam ia di pekuburan umum. Kondisinya sangat menyedihkan. Orang-orang bahkan menduganya sudah meninggal. Kondisi fisiknya mengalami lumpuh layu. Tapi Tuhan punya rencana lain. Ia diselamatkan. Setelah melalui proses administrasi di Dinas Sosial setempat, Ucup, panggilan akrabnya dibawa ke Yayasan Sayap Ibu.

"Orang tua macam apa itu. Sudah hidup bersama lebih dari setahun. Sudah mendengar tangisannya selama setahun lalu dibuang begitu saja di pekuburan,". Tuti geram dengan prilaku orang tua yang tak bertanggungjawab itu. Tidak hanya terhadap Ucup, tetapi juga buat orang tua lain yang tega hati membuang buah cinta mereka dan anugrah dari Tuhan itu.

Lebih dari dua puluh tahun ia tinggal di yayasan itu. Dua tahun lagi, ia harus keluar. Sudah waktunya ia kembali ke tengah-tengah masyarakat. Ia harus mandiri. Pihak Yayasan Sayap Ibu telah membekalinya dengan berbagai keterampilan. Menjual kios pulsa, punya warung, menghitung secara baik dan benar. Terutama kesiapan mentalnya. Dulunya, Yusuf juga mengalami kendala komunikasi. Tetapi, setelah diberi treatmen di Yayasan Sayap Ibu, komunikasi verbalnya membaik. Kosakatanya berkembang. Tentu untuk ukuran anak-anak disabilitas. Pengelola yayasan akhirnya fokus mengasah kemampuan intelektualnya. Karena itu, dia bisa mengoperasikan smartphone, tablet, mengotak-atik aplikasi yang ada di smartphone.

"Ucup ini hanya kendala fisik. Intelektualnya nggak ada masalah. Dia harus menghidupi dirinya sendiri," kata Tuti.

Walau Ucup keluar dan berkembang, ikatan cinta kasih takan terputus. Tuti bilang, malaikat kecil yang mulai beranjak dewasa itu tetap diberi perhatian khusus. Dia akan dicarikan kontrakan. Dibekali modal untuk usaha. Bahkan bergabung sebagai pengasuh di yayasan itu. Ucup akan menjadi mentor dan rule model bagi anak-anak Yayasan Sayap Ibu. Momen itu tentu akan jadi babak baru bagi dia. Dalam hati, Ucup tentu berharap kelak akan bertemu dengan orang tua yang menelantarkannya. Ia ingin membuktikan bahwa ia sudah bisa mandiri dengan segala keterbatasan yang ia miliki.





Keterangan foto :
1. Tak putus asa: Membatik merupakan salah satu kegiatan Ucup dan puluhan anak lain di Yayasan Sayap Ibu Bintaro.

2. Melek Sosmed : Ucup meng-update pengetahuan dan informasi melalui gadget



#
Muhammad Subadri Jarawadu
Seorang Jurnalis di Jakarta yang berasal dari NTT
Tinggal di Bogor bersama istri dan dua anak