Pemanasan Global Meningkat, Moralitas Ikut Mencair



Dunia mulai mengalami sebuah pemanasan global, fenomena itu disebabkan oleh tingkah laku manusia itu sendiri. Perbuatan manusia yang tidak sadar terhadap lingkungannya menjadi penyebab utamanya. Rasionalitas masyarakat saat ini pada orientasi lingkungan lambat laun mulai menurun, mereka semakin menggembar-gemborkan kerusakan lingkungan bukan malah merevitalisasi lingkungan yang mengalami degradasi. Akibat dari adanya pemanasan global dirasakan sendiri oleh manusia, sehingga konsepnya hampir sama dengan konsep demokrasi dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat, dampak pemanasan global juga dari manusia oleh manusia untuk manusia. Peningkatan suhu adalah salah satu efek pemanasan global yang secara luas mengakibatkan es di kutub mulai mencair.

Pencairan es di kutub tidak hanya sekadar berdampak pada ekologi, tetapi moralitas semakin hari mulai ikut mencair juga.  Moralitas merupakan unit terpenting yang harus dipegang teguh oleh setiap individu. Keteguhan pemegangan moral bukan semata-mata hanya untuk kepentingan nilai estetika pribadi saja, tetapi untuk menjaga eksistensi diri sendiri. Pengibaratan moralitas seperi akar pada rumput ketika akarnya mulai mengikis dan copot pada setiap akarnya akan membuat rumput tersebut ikut mengikis juga dari tanah. Serupa hal itu ketika individu mulai terkikis moralitasnya maka individu akan tumbang dari peradaban kehidupan sosialnya.

Moralitas juga dijadikan sebagai kompas kehidupan disaat terpeleset moral dimiliki individu, akan berdampak pada kesukaran seseorang menjalani kehidupan sosialnya. Pembentukan moralitas menjadi sebuah kesatuan komponen kehidupan, komponen itu saling bahu-membahu mendirikan tonggak moral sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat. Setiap komponen yang ada adalah satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pada saat membicarakan merosotnya moral saat ini tidak hanya menyalahkan keluarga, karena keluarga memiliki ruang lingkup dan batasan, setiap individu juga memiliki kebebasannya untuk mengeksploitasi dunia luar untuk berinteraski dan melakukan sosialisasi di luar keluarga. Proses sosialisasi di luar lingkup keluarga merupakan arena yang sedikit sensitif. Keadaan sensitif terjadi, karena tidak ada kontrol sosial pada saat melakukan proses pergaulan semata.

Proses transfer nilai saat ini semakin agresif disebabkan oleh adanya keadaan masa semakin liberal. Kondisi liberal ini mengakibatkan kebebasan individu mengeksploitasi pada mulanya lalu mengeksplor dunia luar tanpa sadar mereka tersugesti untuk melakukan apa yang sudah diperolehnya. Media sosial saat ini juga merupakan modal untuk merekonstruksi pemikiran seseorang untuk bertingkah tidak sesuai nilai dan norma yang ada. Pemikiran seseorang yang tidak sanggup menerima kebebasan ini akan mengalami culture shock dampaknya yaitu individu dengan mudah menyerap semua apa yang sudah masuk secara sistematis di pemikirannya. Tayangan yang dipertontonkan saat ini adalah ranah sensitifitas ketika tayangan itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dipegang teguh oleh negara kita.

Memahami individu pada saat mengalami kemerosotan moral merupakan penilain yang sulit dilakukan. Penilain itu tidak hanya bisa dilakukan dengan waktu sibgkat, karena manusia diciptakan dengan wajah bermuka dua. Hasilnya adalah manusia terkadang melakukan tindakan menggunakan konsep dramaturginya, ketika di hadapan orang yang menurutnya adalah orang yang harus dihormati dia akan menggunakan panggung depannya bertindak lemah gemulai seakan tunduk patuh pada aturan, tetapi jika kondisi tersebut sudah selesai dia akan menggunakan panggung belakang sesuai pada kemerosotan moralnya. Penyebab itu membuat sekolah terkadang terkecoh memberikan labelling pada siswanya.

Permasalahan dari moralitas yang kian mencair adalah kondisi sosial semakin mengalami kondisi chaos. Kondisi chaos ini bisa dilihat oleh maraknya kasus pembegalan. Kasus ini terus terjadi meskipun sudah ditangani, hal ini dilihat dari kaca mata struktural konflik, Simmel mengatakan kekuasaan, otoritas, pengaruh sifat adalah penyebab terjadinya konflik (Wirawan, 2012). Konflik itu terjadi ketika seseorang memiliki kekuasaan modal sosial menyebabkan tindakan di luar batas aturan, dan pengaruh luar yang kuat menyebabkan kasus ini akan tetap terjadi. Kasus pembegalan juga terjadi oleh adanya konflik ekonomi yang di mana ekonomi merupakan komponen kuat di kehidupan. Tidak mengherankan pemenuhan ekonomi semakin ekstrim dilakukan tidak peduli sikut sana dan sikut sini terpenting perut terisi hati senang.

Fenomena dari mencairnya moralitas adalah kasus pelecehan yang sering dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Kondisi ini masih sering ditemukan bahkan seperti penyakit menular tersangka satu ditangkap orang lain sudah terjangkit virusnya. Maraknya fenomena pelecehan akibat dari adanya penunjukan identitas diri dari seseorang. Identitas diri yang dimaksudkan adalah penguatan keberadaan maskulinitas. Cermininan maskulin menganggap bahwa wanita berada di garis subordinasi sedangkan laki-laki di garis superordinasi (Listyani, 2018). Maskulinitas sulit dihilangkan, karena untuk mendekonstruksi itu tidak semudah menghabiskan makanan di atas meja, karena hal itu sudah mengakar subur di akal.

Pembedaan sosial berdasarkan maskulin dan feminin merambat pada permasalahn kasus LGBT yang semakin meningkat. Keberadaan LGBT merupakan bentuk penyimpangan dengan alasan tidak sesuai dengan tatanan hidup bangsa, tetapi hal itu tidak bisa menekan angka kemunculan LGBT terkadang orang LGBT diberi cap sebagai bentuk kemerosotan moral. Kenyataan dari keberadaan LGBT disebabkan oleh kebosanan dari adanya pengklasifikasian posisi subjek dan objek. Posisi subjek dan objek sudah membuat kondisi yang tidak setara, sehingga hal yang harus dihilangkan adalah pemberian posisi antara maskulin dan feminin di wilayah hubungan sosial (Agger, 2017).

Degradasi moral semakin berbahaya seperti batu di tepi pantai yang mulai terkikis oleh hantaman ombak. Ketika tidak dapat segera diselesaikan akan berakibat pada tameng semakin melempem, karena tidak ada pelindung yang dapat bisa digunakan. Tidak mengherankan jika fenomena chaos semakin sering terjadi di kehidupan saat ini.


Referensi
Wirawan, I.B. 2012. Teori- Teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Jakarta: Prenamedia Group.
Agger, Ben. 2017. Teori Sosial Kritis. Bantul: Kreasi Wacana.
Listyani, Refti Handini. 2018. Sosiologi Gender. Surabaya : Unesa University Press.



Oleh : Akbar Mawlana
Instagram : akbarmawlana3113