Polemik Islam Nusantara


Polemik Islam NusantaraAli Syari'ati membuat buku yang berjudul agama versus agama, didalam kata pengantar buku Ali Syari'ati "Ali Syari'ati mengajukan tesis yang luar biasa, pada tanggal 12 dan 13 Agustus 1970 di Teheran dalam kuliah-kuliahnya. Beliau mengatakan, bahwa sepanjang sejarah, agama telah berjuang melawan "agama", dan bukan non agama, sebagaimana yang kita percayai.

Kekhawatiran pun dilontarkan oleh Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Alternatif, bahwa Ekstrimisme Islam itu berbahaya. Maka, harus diciptakan sebuah narasi diluar dari Ekstrimisme Islam secara tekstual. 

Namun, kang Jalaluddin Rakhmat dibantah oleh kang Imaduddin dalam kata pengantar buku Islam Alternatif. Bantahan kang Imaduddin mengatakan "Jalaluddin Rakhmat membantah akan adanya Ekstrimisme Islam secara Skriptual atau tekstual, saya khawatir Jalaluddin Rakhmat pun masuk kedalam narasi Ekstrimisme Sosial yang selalu beliau gaungkan".

Dua pemikiran diatas yang saya sampaikan di tulisan ini, merupakan salah satu alasannya. Alasannya, mengapa selalu Islam yang dibenturkan dengan istilah lainnya. Contoh, adanya Istilah Liberal, Islam Fundamentalis, Islam Kiri, Islam Moderat, Islam Moderat, Islam Radikal sampai pada titik puncaknya adalah, Islam Nusantara.

Saya pikir, Islam ini bukan untuk di kritik secara ke Islamannya, seharusnya Islam di kritik secara pengkultusan kelembagaannya. 

Jika, kita sebagai umat muslim atau sebagai umat non muslim kritiklah kelembagaan penyucian Islam yang ada didalamnya. Maka, narasi yang hadir adalah, narasi konstruktif dalam membangun keumatan dan kebermanfaatan akan satu bentuk kelembagaan dalam Islamnya.

Tesis Ali Syari'ati diatas secara tidak langsung mengatakan, sudah cukup kita berjuang melawan dengan yang namanya agama diluar Islam. 

Sudah saatnya kita berjuang dengan suatu permasalahan tentang kemanusiaan. Maka, perjuangan nilai keagamaan Islam versus kemiskinan, korupsi, dan lain-lain. Ini adalah bentuk kongkret dari perjuangan Islam yang sudah di akui secara agama di dunia.

Pengakuan Islam secara agama tidak hanya diakui dalam hal keagamaan saja, pengakuan Islam ini pun dilihat dari segi kapasitas para tokoh muslim yang mempunyai kapabilitas keilmuan yang kompleks dalam bidang-bidangnya tertentu. 

Dewasa ini, umat muslim harus berjuang dalam kapasitas intelektual, berjuang dalam kapasitas kapital (keuangan atau ekonomi), berjuang dalam kapasitas sosial dan perjuangan-perjuangan lainnya yang menghasilkan suatu tatanan masyarakat adil makmur secara kaffah.

Ironi, jika umat muslim masih berjuang dalam tahap perjuangan keagamaan. Mengapa ironi ? Artinya umat muslim ini belum bisa move on atau bisa juga dikatakan masih bermesraan dengan nilai kesejarahannya. 

Romantisme sejarah hanya untuk diambil benang merahnya sehingga nilai edukasi yang ada dapat kita rekonstruksi kembali untuk kemajuan dalam beragama, berteknologi, dan lain sebagainya.

Islam Nusantara adalah buah pemikiran dari satu ormas yang ingin menyampaikan bahwa Islam Nusantara merupakan Islam murni yang di gagas langsung dari Nusantara yaitu Indonesia. 

Hal inilah yang dapat menimbulkan polemik yang usang bagi saya, polemik yang usang ini hanya memperdebatkan akan makna keislaman dalam konteks keagamaan saja. 

Secara sederhananya begini, bila Islam Nusantara ini di yakini murni buah pemikiran Islam di Indonesia. Maka menurut saya hilangkan istilah Islamnya. 

Karena istilah Islam masih mengutip dalam istilah arab. Artinya, konsistensi dalam gagasan pun harus di junjung tinggi. 

Kemudian, bila Islam Nusantara ini dianggap penting dan perlu hadir. Maka, hapuskan semua Narasi-narasi atau kitab-kitab yang masih mempunyai versi Arab, agar Islam Nusantara ini murni seutuhnya milik Indonesia.

Selanjutnya, bila Islam timur tengah tidak diperbolehkan menyebarluas di bumi Indonesia dan Islam Nusantara harus menyebar luar di seluruh dunia. Maka, Islam Nusantara pun perlu pengakuan akan narasi yang disampaikannya.

Bagi saya, Islam Nusantara bukan menjadi solusi dalam menjawab kemiskinan secara total. Sederhananya, orang kelaparan itu solusinya di kasih makan atau di cukupi kebutuhannya. Bukan di ceramahi dengan gagasan. Bisa-bisa orang kelaparan tersebut mati karena menahan lapar dan mendengarkan gagasan dari salah tokohnya.

Hemat pikir saya, bahwa Islam apapun itu namanya bukanlah sesuatu yang sangat urgent dalam kehidupan sehari-hari. Islam adalah agama yang sudah mengajarkan semuanya hanya satu tugas kita, berjuang untuk menjawab problem ke depan bukan dengan gagasan yang dulu, akan tetapi dengan gagasan yang baru.

Bahwa Islam hadir bukan hanya persoalan nilai keagamaan secara baku yang ada dalam teks-teks. Islam hadir untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang ada dalam konteks kemanusiaan. 

Islam selalu menjunjung tinggi nilai egaliter, nilai empati dan simpati, nilai bahu membahu. Umat muslim harus sadar sejak pikiran ketika dia berkelebihan dalam harta maka tugas dia adalah mencukupi orang yang kurang mampu sehingga dia mampu, kemudian terus menerus satu sama umat muslim lainnya begitu. 

Saya menjamin bila terjadi semuanya seperti itu, maka bukan persoalan itu lagi yang akan muncul. Disinilah tugas umat muslim, untuk mempertinggi derajat manusia dalam konteks sosial dan ekonominya. 

Setelah selesai persoalan sosial dan ekonomi, maka Islam secara agama dan muslim secara penganutnya akan merasakan keharmonisan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jadi, saya ingin menyampaikan dalam tulisan ini, jika umat muslim bersepakat dalam pertarungan keilmuan saintik dengan barat, maka saya meyakini pertarungan tersebut akan di menangkan oleh umat muslim. 

Umat sedang membutuhkan akan satu solusi dalam menjawab permasalahan kemiskinan, kelaparan, pengangguran dan lain-lain. Maka, pada kesempatan kali ini, ada tiga bagian kontruksi Islam dalam berjuang di abad majunya teknologi, yaitu: 

Pertama, umat muslim yang mempunyai kapasitas keilmuan secara saintik atau sebut saja ilmuwan, semuanya berkumpul untuk merancang suatu gagasan teknologi yang berkemajuan. (misalnya, menciptakan e-koperasi atau koperasi terbarukan). 

Kedua, umat muslim seluruh dunia secara umum dan khususnya di Indonesia mengelaborasi nilai kemanusiaan dengan nilai fungsional dalam asas tanggungjawab dan komitmen ke ekonomian. 

Dan terakhir, umat muslim secara personal dan komunal memegang suatu prinsip integralisasi dalam konteks kemanusiaan.


Penulis : Mochamad Aripin
Instagram : @aripin.mochamad