Politik versus Yang Politis

Politik versus Yang Politis



Politik (the police) secara umum adalah praktik kekuasaan atau penubuhan kehendak dan kepentingan yang mensyaratkan adanya subyek yang saling terbelah dan terbagi ke dalam hirarki dalam sebuah ruang bersama yang nyata. politik mencipta partisi dari berbagai persepsi dan praktik yang membentuk ruang ber sama (le partage du sensible). politik dalam arti umum ini adalah cara untuk membangun kerangka di antara beragam data-data sensoris dan ruang pengalaman yang spesifik, ruang bicara, mendengar dan melihat (atau menutupi) beragam data dan cara kehidupan hingga menghasilkan hirarki dan kategori sosial. sementara politik (the police) adalah:

An organizational system of coordinates that establishes a distribution of the sensible or a law that divides the community into groups, social position, and functions.

Disini, politik adalah praktik dalam tatanan sensori alamiah yang menjejer individu-individu dan kelompok untuk menempati posisi sebagai yang memerintah dan yang diperintah. politik melempar kita ke dalam beragam modus ruang dan waktu serta ‘kebertubuhan’ hukum, ekonomi yang spesifik. Hukum dalam praktik police secara implisit memisahkan merekamereka yang dianggap sebagai bagian dan mereka yang dianggap sebagai bukan bagian dari komunitas. rancière menyebut ini sebagai rezim partisi.

Yang-politis dapat dipahami sebagai kontras dari politik, sebagai segala aktivitas yang memutus keterkaitan dengan politik dengan menemukan subyek baru. Di sini, seperti melawan plato dan aristoteles, rancière mengatakan:

Politis arises from a count of community ‘parts’, which is always a false count, a double count, or miscount.
 
Lebih jauh lagi ditegaskan:

There is politics when there is a part of those who have no part, a part or party of the poor. Politics does not happen just because the poor oppose the rich. It is the other way around: politics (that is, the inter ruption of the simple effects of domination by the rich) causess teh poor to exist as an entity. Politics exist when the natural order of domination is interrupted by the institution of a part of those have no part.

akhirnya:

Politics occurs because, or when, the natural order of the sheperd kings, the warlord, or property owners is interrupted by a freedom that croups up and makes real the ultimate equality on which any social orders rest.

Dengan pandangan-pandangan itu maka esensi dari ‘yang politis’ adalah upaya untuk menginterupsi atau mema tah kan distribusi sensibilitas dengan menyodorkan atau mengu kuh kan kembali kehadiran mereka yang bukan bagian atau ter usir dalam sistem kordinat persepsi komunitas politis. dengan kata lain ‘yang politis’ harus dialami lebih sebagai modus intervensi kepada tatanan politik (police) ketimbang sebuah jalinan dalam sistem status quo.

Yang politis berupaya menemukan cara bagi yang ter singkirkan untuk muncul dan masuk dalam hitungan. ia memberikan kerangka baru terhadap apa yang rutin dan terberi, membangun konfigurasi baru antara yang visible dan invisible, antara yang audible dan inaudible, serta pendistribusian baru dalam ruang dan waktu. Yang politis memekarkan kapasitas-kapasitas baru dengan suatu postulat bahwa oleh karena semua manusia bisa berpikir maka semua manusia setara.

Dengan dasar pembedaan antara ‘politik’ dan ‘yang politis’ ini, rancière kemudian menjelaskan makna disensus. disensus adalah ‘gap’ atau celah yang tak terdamaikan antara ‘politik’ dan ‘yang politis’. Dengan demikian disensus adalah lambang konflik antara sebuah presentasi sensoris dan cara memahaminya, atau konflik antara beragam rezim sensoris. dengan itu, disensus adalah metode untuk menggeser politik yang rutin, menyingkap partisi-partisi dan memunculkan kenyataan.

Di dalam rancière, esensi dari ‘yang politis’ adalah manifestasi dari disensus, yakni pengungkapan “kehadiran dua dunia tapi tetap dalam kesatuannya”. dengan dua dunia di sini yang di maksud adalah antara “dunia atau situasi yang tak nyata/disembunyikan/ideal dengan dunia yang nyata, dunia yang memproduksi ekslusi dan partisi-partisi sosial.”

Dalam dunia yang telah tercacah oleh partisi-partisi ini muncul korban yakni mereka yang dianggap sebagai “bagiantapi bukan bagian”. Mereka bagian dari masyarakat kita tapi sekaligus oleh karena partisi itu dieksklusi dari kita. sensibilitas disensual memungkinkan ‘pemberdayaan’ yakni dengan membantu orang memahami dan menguak pengalaman dari dunia yang berbeda dan nyata, dengan memeriksa apa yang disembunyikan oleh dunia norma-norma. sensibilitas disensual adalah sensibilitas konfrontasi.

Di titik inilah ‘yang-politis’ dalam rancière memiliki karakter berbeda bahkan terbalik dengan politik rekognisi atau politik identitas. politik identitas bertujuan untuk mengangkat identitas atau perbedaan di dalam ‘count as one’ dari sistem demokrasi, sementara ‘yang politis’ dalam rancière justru bermaksud untuk menghapus perbedaan sehingga part-of-no-part itu masuk ke dalam demos. dari posisi ini dapatlah kita simpulkan bahwa dalam rancière kesetaraan (equality) bukan pertama-tama dipasang sebagai tujuan dari politik, melainkan sekaligus aksioma dari yang politik.

Lebih jauh lagi, di sini juga dapat disimpulkan bahwa kesetaraan bukanlah merupakan sebuah ideal dengan isi substan tif tertentu. kesetaraan dalam rancière tidak dapat dipahami sebagai distribusi aritmatis dalam konsep hak yang umum. esensi kesetaraan tidak terdapat dalam persamaan dan kesatuan kepentingan melainkan tindakan subyektivisasi untuk menantang, menunda dan mematahkan tatanan sensibilitas yang dialamiahkan. Tindakan subyektivitas yang mengubah koordinat partisi sehingga si subyek bisa mendeklarasikan aksioma bahwa: kita semua setara!

The essence of equality is not so much to unify as to declassify, to undo the supposed naturalness of orders and replace it with the controversial figures of division.

Dengan kerangka kesetaraan ini, maka ‘yang politis’ juga berarti penciptaan subyek baru karena ‘sebelum adanya tindakan politis’ setiap orang adalah jejeran elemen-elemen yang diposisikan oleh tatanan partisi politik rutin. dalam tindakan ke arah kesetaraan orang keluar dari modus signifikasi politik rutin itu dan lahir sebagai subyek yang baru.

Oleh: Robertus Robet