Primadona Seksi Di Bangka Belitung



Meski  secara umum geografis Bangka Belitung menpunyai  sektor maritim yang cukup menjanjikan, tapi tetap saja hingga kini timah adalah tollak ukur ekonomi masyarakat di Babel. Bahkan sebagaian besar masyarakat Bangka Belitung menggantungkan hidup pada sektor tambang terutama timah selain berkebun dan melaut sebagai nelayan. Pada awal tahun 1999 hampir sebagaian besar rakyat Bangka Belitung bermata pencaharian sebagai penambang timah. Bahkan banyak masyarakat dari luar Bangka Belitung yang datang dan pergi untuk ikut menikmati hasil kekayaan alam yang ada di Babel.

Sejak Bangka Belitung masih satu provinsi dan bergabung dengan Sumatra Selatan hingga akhirnya berpisah menjadi provinsi sendiri pada tahun 2001. Bangka Belitung yang memiliki semboyan "Sepintu Sedulang" ini memilih memisahkan diri dengan Provinsi Sumatera Selatan salah satunya dikarenakan kekayaan alam yang sangat menunjang untuk mandiri, yaitu Timah dan sektor maritim lainnya.

Terbukti kekayaan alam berupa timah menjadikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebagai daerah penghasil timah terbesar di dunia. Meski sebenarnya timah di Babel sudah mulai dikelola sejak lama. Jika membahas timah maka hal itu akan terlihat begitu seksi. Pada dasarnya puncak kemakmuran oleh timah juga menjadi puncak kehancuran pembangunan berkelanjutan di Bangka Belitung. Hal ini disebabkan masih kurangnya pemahaman masyarakat terhadap pembangunan  berkelanjutan. Maka dalam hal ini Hukum Pertambangan sangat berperan penting dalam mengedukasi masyarakat. Tentu saja edukasi perlu dimotori oleh para stakeholder dan relawan yang peduli.

Primadona seksi dalam hal ini menggambarkan bahwa Timah meski dalam keadaan harga yang turun maupun anjlok tetap menjadi buruan para penambang. Bahkan tidak sedikit yang memilih menambang dan tidak menjualnya ketika harga timah turun dan anjlok. Tapi memilih untuk menimbunnya dan dijual dilain hari ketika harga timah naik dan memadai.

Baik itu legal ataupun ilegal Tambang Inkonvensial (TI) masih banyak yang beroperasi, wajar saja timah adalah primadona seksi di Bangka Belitung. Akan terus diburu oleh pelaku tambang dan bisnis. Bahkan tolok ukur ekonomi masyarkat Bangka Belitung adalah redap redup, tinggi rendahnya harga timah.  Walaupun pada saat ini sudah ada beberapa masyarakat yang kembali beralih pada sektor pertanian dan kelautan, seperti kebun sawit, rumah bagan  (rumah singgah tengah laut) dan wirausaha.

Namun hal miris yang terjadi saat ini adalah begitu banyak bekas lahan tambang darat yang tidak di aklamasi dan tidak sedikit pula laut yang rusak akibat tambang laut. Banyak masyarakat mengeluh lahan bekas tambang tidak subur lagi untuk dikelola sebagai lahan pertanian. Keluh kesah yang sama juga dirasakan oleh nelayan, bahkan hasil tangkapan melaut menjadi berkurang. Begitulah adanya kini. Namun lagi-lagi timah tidak bisa ditinggalkan begitu saja, tetap saja timah adalah primadona seksi yang tidak sedikit menjadikan para pelaku tambang berorgasme ria.

Meski hasil pengoperasian tambang tidak sebanyak pada masa kejayaannya sampai dengan tahun 2014, bagi masyarakat tanpa mengenal kelasnya tetap saja sama. Hal itu dikarenakan perbandingan harga timah di tahun 90an yang rendah dengan harga timah di tahun 2015-2019 yang kini berlipat ganda. Selain faktor waktu, tingginya harga timah yang tanpa disadari masyarakat sebenarnya dikarenakan mulai sedikitnya pemasokan timah dunia. Hingga membuat para masyarakat tetap menjadikan timah sebagai primadona terseksi di Bangka Belitung untuk menunjang kehidupan. 

Namun pada tahun 2020 ini sudah seharusnya dan waktunya masyarakat di Bangka Belitung beralih kepada profesi yang lebih ramah lingkungan untuk menjaga jalannya ekosistem alam yang lebih baik demi kelangsungan alam bagi anak cucu dimasa depan. Harapannya pemerintah dan seluruh stakeholder dapat memberikan pemahaman dan sosialisasi kepada masyarakat. Penting juga pelibatan para akademisi terutama mahasiswa dalam memberikan edukasi tentang aturan hukum secara hirarkis kepada masyarakat apabila ingin tetap menjalankan usaha pertambangan agar terjalinnya hubungan baik antara kerja manusia dengan kerja alam. Demikian diharapkan masyarakat dapat sadar dan saling bekerja sama dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.



Penulis : Immawan Suhargo (Mahasiswa Fakultas Hukum UBB)