Gerakan Mahasiswa Menjadi Keras

AyoBandung

Gerakan Mahasiswa Menjadi KerasGerakan mahasiswa menjelang pemilu 1999 sedang dalam krisis, dimasa sebelum dan di saat lengsernya Soeharto, masih mudah mengidentifikasi gerakan mahasiswa, berdasarkan isu dan strategi kelompok gerakan mahasiswa, tanpa susah payah gerakan ini dapat dikelompokan sebagai gerakan demokrasi dan reformasi. 

Namun setelah setahun usia gerakan mahasiswa, identifikasi politik atas gerakan itu tidak lagi mudah, yang terasa, spirit gerakan ini untuk memutuskan Indonesia dari masa silam orde baru sangatlah keras. 

Tidak jarang, isu yang mereka lontarkan justru bertentangan dengan prinsip demokrasi, ini menyulitkan kita untuk tetap menganggap gerakan mahasiswa sebagai kekuatan yang masih konsisten atas arus reformasi dan demokratisasi. 

Dua contoh dapat dikemukakan disini, pertama, isu gerakan mahasiswa yang ingin golkar dibubarkan atau didiskualifikasi sebagai peserta pemilu. Dapat dipahami kemarahan mahasiswa atas golkar sebagai sendi utama orde baru, namun menghendaki golkar dibubarkan adalah bertentangan dengan prinsip demokrasi. 

Pernyataan Voltaire, seorang ilmuwan Perancis, dapat menjelaskannya, Voltaire pernah berkata, “Saya tidak menyetujui pendapat tuan, tetapi hak tuan untuk menyatakan pendapat itu, akan saya bela," Prinsip Voltaire adalah sokoguru utama demokrasi. mahasiswa boleh saja tidak menyetujui platform atau masa silam golkar, tapi hak golkar untuk menyatakan pendapatnya, dan untuk ikut pemilu harus dihormati. 

Jangankan golkar, setanpun jika punya partai harus diizinkan mengikuti pemilu, lalu berpulang kepada masyarakat banyak untuk memilih partai itu atau tidak.

Jika memang tidak setuju dengan golkar, maka gerakan mahasiswa harus mengalahkan golkar secara demokratis melalui pemilu, bukan membrendelnya dengan meminjam tangan kekuasaan pemerintah ataupun kekuasaan massa dijalan. 

Contoh kedua adalah isu penolakan pemilu, sarasehan nasional mahasiswa di Bali bulan Februari 1999 menelurkan keputusan yang menolak pemilu, sebagai gantinya gerakan mahasiswa menginginkan dibentuknya pemerintahan transisi atau Komite Rakyat Indonesia. 

Dapat dimengerti bahwa pemilu bulan juni 1999 ini belum sempurna, namun dari kacamata prinsip demokrasi, pemilu yang tidak sempurna itu jauh lebih baik dari pembentukan Komite Rakyat Indonesia ataupun pemerintahan baru lainnya yang tidak melalui pemilu. 

Siapa yang berhak memilih Komite Rakyat Indonesia itu? Apa dasarnya mengatakan mereka adalah representasi dari masyarakat Indonesia yang sangat beragam? Sedangkan dalam pemilu 1999, sungguhpun belum sempurna, rakyat dari 27 propinsi yang memilih, bukan elit semata. 

Mengapa terjadi kemunduran ideologi dalam gerakan mahasiswa saaat ini? Apakah gerakan mahasiswa menyadarinya? 

Pertama, ini revolusi wajar dari sebuah gerakan, setelah setahun gerakan apapun yang besar akan mengalami fragmentasi, mulai dari yang moderat sampai ekstrem, yang nyaring keluar biasanya yang ekstrem. 

Kemunduran gerakan mahasiswa ini karena terjadinya radikalisasi atau ekstremisasi gerakan. Sehingga berbagai rambu prinsip demokrasi yang moderat, dilampaui dan dilanggar. 

Kedua, gerakan mahasiswa berubah kelamin, gerakan ini yang awalnya bersandar pada kekuatan moral pelan-pelan berubah menjadi gerakan politik, Sebagai gerakan moral, umumnya gerakan mahasiswa bersifat non-partisan dan berdiri di atas pengelompokkan politik yang ada.

Namun sebagai gerakan politik, gerakan mahasiswa mulai bersifat partisan dan memihak golongan politik tertentu, untuk kasus ini, mahasiswa memilih kelompok politik radikal yang menolak pemilu dan golkar. 

Ketiga, gerakan mahasiswa tidak benar-benar menghayati ideologi yang mereka perjuangkan, Dalam slogan, mereka mengklaim sebagai kekuatan reformasi dan demokrasi. 

Namun detail dari reformasi dan demokrasi itu tidak mereka hayati dan tidak menjadi acuan dalam menelurkan berbagai isu politik satu atau kombinasi dari tiga alasan ini yang membuat gerakan mahasiswa mundur secara ideologis, jika tidak berubah, gerakan ini akan kehilangan simpati dan dukungan rakyat banyak. 

Tentu saja proposisi di atas tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh komponen gerakan mahasiswa, banyak pula gerakan mahasiswa yang bekerja secara diam, mendukung pemilu dan tidak mengingkari hak partai lain, seperti golkar, untuk menjadi peserta pemilu. 

Namun gerakan yang anti pemilu dan golkar ini cenderung menjadi mainstream. Sangat disayangkan jika gerakan mahasiswa mengalami kisis. reformasi dan demokratisasi ini adalah proyek yang memakan waktu lama dan belum selesai, pengawal reformasi sangat diperlukan, terutama untuk memberikan tekanan ekstra parlementer. 

Tanpa pengawal, dengan mudah gerakan refomasi diselewengkan atau tidak dituntaskan. Sangatlah ironi jika gerakan mahasiswa yang selama ini menjadi pengawal reformasi justru terjatuh menjadi penjegalnya. 

Ini menjadi ironi karena kelompok status quo juga menjegal reformasi untuk alasan lain. Sedangkan gerakan mahasiswa dapat menjegal arus reformasi hanya karena menjadi ekstrem dan ketidaktahuan, saatnya gerakan mahasiswa kembali ke cita-cita dan menjadi moderat.


Penulis : Lalik Kongkar